Jika ada yang
bertanya apakah profesi saya sebagai guru adalah pekerjaan yang sedari dulu
saya impikan, maka jawabannya adalah “tidak”. Membayangkan diri saya berdiri di
depan kelas dan mengajar pun rasanya sangat mustahil. Bahkan bertahun-tahun
lalu ketika seseorang bertanya apakah saya mau bekerja di bidang ini nantinya,
saya menjawab “tidak sudi.”
But karma is
bittersweet. Sesumbar yang bertahun-tahun lalu
sembarangan saya ucapkan rupanya menemukan jalannya sendiri kehadapan saya. Dengan
penuh kesadaran saya memilih kuliah di jurusan pendidikan yang tentunya akan
mendekatkan saya pada profesi guru.
Apakah artinya
saat itu saya berubah pikiran dan menjadikan profesi guru sebagai cita-cita?
Nyatanya tidak. Saya hanya asal memilih jurusan di salah satu kampus negeri tanpa
benar-benar memahami konsekuensinya.
Sebagai orang
pertama di dalam keluarga yang akan kuliah, saya tidak memiliki role model
untuk dijadikan tempat bertanya. Terlebih, orang tua menyerahkan sepenuhnya segala
sesuatu tentang jurusan dan kampus untuk saya putuskan sendiri. Seperti tipikal
anak muda lainnya, saya pun memilih tanpa menggali lebih banyak informasi terlebih
dulu.
Jadi, ketika menoleh
ke belakang dan melihat kembali ke masa itu, saya merasa begitu konyol. Betapa anehnya
bahwa keputusan yang dibuat dengan serampangan ternyata mampu mengubah jalan
hidup saya sepenuhnya. Lalu, apakah itu berarti saya membenci pekerjaan sebagai
guru?
Sebaliknya,
saya sangat menikmati kegiatan mengajar. Saya senang berada di kelas di antara
murid-murid karena mereka adalah individu yang dinamis dengan keunikan
masing-masing. Tidak hanya itu, setiap interaksi yang terjalin dengan mereka sama
sekali tidak bisa saya prediksi bagaimana akan berlangsung. Jadi, setiap waktu ada
tantangan baru yang harus saya hadapi.
Saya juga kerap
dibuat heran dengan berbagai tingkah siswa yang menurut saya bisa sangat absurd.
Saat bersama mereka, saya seringkali berpikir betapa anehnya bahwa dulu saya
memiliki keinginan untuk cepat-cepat menjadi dewasa. Anak-anak ini, beban terberat
mereka sepertinya hanya PR matematika dan putus cinta!
Sekarang, sudah
tidak penting lagi apakah profesi guru menjadi pekerjaan impian saya atau tidak.
Karena yang terpenting adalah saya menyukai apa yang saya kerjakan. Menyadari pengaruh
profesi saya pada generasi selanjutnya, saya memutuskan untuk tetap mengajar
dan belajar.
Saya ingin menutup tulisan saya kali ini dengan penggalan lirik lagu What a Wonderful World
oleh Louis Armstrong yang mewakili perasaan saya setiap kali melihat murid-murid.
“… I
watch them grow
They’ll
learn much more than I’ll ever know
And I think
to myself, what a wonderful world”

.png)
3 Comments
Hwaitingggggggg
ReplyDeleteSemangattt, kakak. Sehat selalu
ReplyDeleteMenyukai pekerjaan saat ini adalah cara untuk tetap bertahan dan bekerja sepenuh hati
ReplyDelete