Judul                            : Totto-chan Gadis Cilik di Jendela

Penulis                         : Tetsuko Kuroyanagi

Cetakan Pertama         : 1981

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman         : 272

Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar seorang anak kelas 1 SD dikeluarkan dari sekolah? Diangkat dari kisah nyata penulisnya, Totto-chan Gadis Cilik di Jendela membawa kita menyelami dunia anak yang terkadang sulit dipahami orang dewasa.

Buku ini mengajak kita memahami alasan anak-anak melakukan hal-hal yang oleh orang dewasa dianggap menjengkelkan. Dibimbing oleh kepala sekolah yang sangat memahami dunia anak, teman-teman dengan berbagai latar belakang, dan kurikulum yang tidak biasa, kita akan dibawa dalam perjalanan Totto-chan menemukan jati dirinya di sekolah baru, Tomoe Gakuen.

Anak Nakal dan Sulit Diatur

Novel ini berkisah tentang Totto-chan, anak kelas 1 SD yang terpaksa harus pindah sekolah karena tingkah lakunya dianggap mengganggu di kelas. Bahkan tidak jarang dia dihukum berdiri di koridor karena keusilannya. Guru-guru di sekolah lamanya merasa kewalahan menghadapi tingkah laku Totto-chan yang cenderung aneh dan sulit diatur.

Mulai dari memanggil kelompok musik jalanan hingga mengajak mengobrol sepasang burung walet yang sedang membuat sarang di pohon. Semua itu dia lakukan dari dalam kelas dan saat pelajaran sedang berlangsung. Masih banyak lagi hal lain yang dilakukan Totto-chan hingga membuat gurunya habis kesabaran. Hingga suatu hari guru kelasnya terpaksa meminta orangtua Totto-chan memindahkannya ke sekolah lain.

Belajar di Gerbong Kereta

Ibu Totto-chan, seorang wanita manis dan penyabar akhirnya menemukan sekolah baru untuk putrinya. Alih-alih di kelas, murid-murid di Tomoe Gakuen belajar di dalam gerbong kereta! Totto-chan memutuskan dia menyukai sekolah barunya begitu melihat 6 gerbong kereta yang berjajar rapi di halaman.

Tentu saja, gerbong-gerbong itu tidak ada relnya. Kepala Sekolah Tomoe Gakuen mendatangkan gerbong kereta bekas sebagai ganti ruang kelas konvensional. Totto-chan sangat terkesan dengan sekolah barunya dan merasa tidak sabar untuk mulai belajar disana.

Kurikulum Pendidikan yang Tidak Biasa

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Tomoe Gakuen tidak mengadopsi kurikulum pendidikan konvensional. Hal ini cukup dianggap revolusioner pada masanya mengingat Jepang pada saat itu sedang terlibat dalam Perang Pasifik. Terlebih Jepang terkenal sebagai sebuah bangsa yang mengedepankan tradisi dan cenderung kaku.

Selain penggunaan gerbong kereta sebagai kelas, sistem pendidikan yang tidak biasa itu juga bisa dilihat dari kegiatan belajar mengajarnya. Di sekolah biasa, anak-anak di dalam suatu kelas akan mendapatkan mata pelajaran dengan urutan yang sama. Tetapi, murid-murid di Tomoe Gakuen dibebaskan memilih sendiri urutan mata pelajaran yang mereka inginkan setiap harinya.

Jadi, tidak heran jika di suatu kelas kita menemukan seorang siswa belajar berhitung sedangkan siswa lainnya belajar membaca di jam yang sama. Guru di kelas hanya berperan sebagai fasilitator dan anak-anak belajar dengan mandiri. Bagi murid-murid sendiri, memulai aktivitas dengan pelajaran yang mereka sukai tentunya lebih menyenangkan.

Teman-Teman dengan Berbagai Latar Belakang

Sebagian murid di Tomoe Gakuen seperti Yasuaki dan Takahashi merupakan anak dengan fisik tidak sempurna. Yasuaki menderita polio yang membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Sementara itu, Takahashi mengalami dwarfism yang membuat tubuhnya berhenti tumbuh di usia 7 tahun. Anak-anak di sekolah tersebut diajarkan empati dan rasa hormat kepada siapapun yang “tidak sama” dengan mereka.

Di Tomoe Gakuen, anak-anak dengan kekurangan fisik seperti Yasuaki dan Takahashi dididik untuk tidak malu dengan tubuh mereka. Mereka tumbuh menjadi anak percaya diri. Bahkan Takahashi berhasil menjadi manajer personalia yang betanggung jawab menjaga hubungan harmonis antara para pekerja ketika dia dewasa.

Kepala Sekolah dengan Pendekatan Humanis

Tomoe Gakuen didirikan oleh Sosaku Kobayashi pada tahun 1937. Mr. Kobayashi sendiri seorang visioner yang percaya bahwa semua anak pada dasarnya membawa sifat baik saat lahir. Pengaruh buruk lingkungan dan label yang diberikan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya lah yang merusak mereka.

Melalui kurikulum yang dirancang sendiri, Mr. Kobayashi berusaha menemukan sifat-sifat baik yang ada pada anak-anak. Kemudian, dia akan menggunakan pendekatan-pendekatan humanis untuk mengembangkannya agar anak-anak tersebut tumbuh sesuai keunikan masing-masing.

Mr. Kobayashi merancang jenis-jenis lomba khusus di Hari Olahraga sekolah agar anak-anak seperti Takahashi bisa memenangkannya. Hal ini karena Mr. Kobayashi ingin Takahashi percaya bahwa dia memiliki kelebihan meskipun fisiknya tidak sempurna.

Pemahaman Mr. Kobayashi akan dunia anak-anak juga terlihat saat dia melakukan tes wawancara dengan Totto-chan. Alih-alih memberikan pertanyaan-pertanyaan sulit sebagai tes masuk, Mr. Kobayashi hanya meminta Totto-chan untuk bercerita apa saja. Totto-chan yang periang akhirnya bercerita selama 4 jam penuh kepada Mr. Kobayashi pada pertemuan pertama mereka.

Istilah “makanan dari gunung” dan “makanan dari laut” juga dirancang Mr. Kobayashi agar anak-anak terbiasa makan dengan menu seimbang. Mr. Kobayashi juga meminta orangtua membiarkan anak-anak mereka memakai pakaian paling kusam untuk ke sekolah. Hal ini agar orangtua tidak khawatir jika anak-anak pulang sekolah dalam keadaan kotor. Agar murid-murid mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat dalam hidup mereka kelak, Mr. Kobayashi juga mengangkat seorang guru pertanian untuk mengajar bercocok tanam di sekolah.

Sayang sekali Tomoe Gakuen hanya sempat bertahan beberapa tahun saja. Sekolah itu terbakar habis pada tahun 1945 ketika pesawat Sekutu menjatuhkan bom dari atas langit Tokyo. Mr. Kobayashi sendiri meninggal pada tahun 1963 tanpa sempat mendirikan kembali Tomoe Gakuen.

Final Thought

Oldie but goodie. Totto-chan Gadis Cilik di Jendela ditulis dengan bahasa yang sederhana namun sarat akan isi. Setiap bab dalam novel ini berisi ingatan-ingatan penulis tentang berbagai peristiwa yang terjadi di masa kecilnya.

Kita akan dibuat tertawa dengan kepolosan Totto-chan menggambar bendera perang Jepang hingga menutupi sebagian meja. Namun terkadang kita juga ikut merasakan kesedihan yang luar biasa seperti saat Yasuaki, sahabat Totto-chan meninggal. Sementara di bab lain kita akan dibuat tidak habis pikir dengan tingkah gadis kecil itu yang menguras isi kakus seorang diri untuk menemukan dompet kesayangannya.

Namun dari peristiwa-peristiwa tersebut, pembaca akan memahami cara berpikir seorang anak. Terkadang yang dianggap orang dewasa sebagai sesuatu yang menjengkalkan sebenarnya adalah cara anak untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Novel ini mengajak kita untuk percaya bahwa pada dasarnya setiap anak dilahirkan dengan watak baik. Mereka hanya perlu tumbuh di lingkungan yang memberikan dukungan, dorongan, kepercayaan, dan kesempatan sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Meski visi Mr. Kobayashi akan pendidikan sangatlah pantas dipuji, ada beberapa hal yang saya pribadi tidak sependapat. Misalnya ketika Mr. Kobayasashi membiarkan semua anak Tomoe Gakuen berenang tanpa mengenakan baju apapun. Meskipun hal itu dimaksudkan agar anak-anak seperti Takahashi tidak malu dengan bentuk tubuhnya, membiarkan sekelompok anak laki-laki dan perempuan telanjang bersama bukanlah hal yang pantas dilakukan. Apalagi jika di dalam kelompok tersebut ada anak-anak yang lebih besar.

Mr. Kobayashi memang mendorong anak-anak untuk mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa menghakimi. Namun ada kejadian yang saya kurang setuju. Ketika mengetahui Totto-chan mengeluarkan semua isi kakus untuk mencari dompetnya yang terjatuh di sana, Mr. Kobayashi tidak memarahinya.

Alih-alih, dia hanya bertanya pada Totto-chan apa yang sedang dilakukan dan kemudian membiarkannya saja. Ketika melewati gadis kecil itu lagi yang masih menguras kakus, Mr. Kobayashi pun hanya bertanya apakah Totto-chan akan membersihkannya setelah selesai dan tidak mengganggunya lebih lanjut. Sampai disini saya masih setuju dengan Mr. Kobayashi yang ingin mengajarkan Totto-chan tanggung jawab. Saya setuju bahwa Totto-chan harus menyelesaikan sendiri apa yang sudah dia mulai.

Hanya saja saya bertanya-tanya apakah Mr. Kobayashi mengawasi Totto-chan dari kejauhan selagi dia menguras isi kakus. Karena jika tidak hal itu tentunya cukup berbahaya. Bisa saja Totto-chan jatuh ke dalam tempat penampungan kakus tanpa ada orang yang tahu. Sayangnya, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai kejadian tersebut di novel ini.